Concow2's Blog

inspirasi tempat nongkrong kita semua

SABANG INDONESIA

Sejarah Perkembangan Kawasan Perdagangan Babas Sabang

Secara historis, Pelabuhan Sabang pertama sekali dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1881 dengan kegiatan utamanya pengisian air dan batubara ke kapal yang disebut “Kolen Station”.

Pelabuhan ini dikelola oleh Firma De Lange yang diberi kewenangan untuk membangun berbagai fasilitas pelabuhan pada tahun 1887. Operasional pelabuhan dilaksanakan oleh Maatschaapij Zeehaven en Kolen

Station, yang kemudian dikenal dengan nama Sabang Maatsscappij tahun 1895. Pada era zaman Belanda, Pelabuhan Sabang telah berperan sangat penting sebagai pelabuhan alam untuk pelayaran internasional terutama dalam mendukung perdagangan komoditi hasil alam Aceh yang diekspor ke negara-negara Eropa. Kejayaan VrijHaven Sabang ini berakhir pada saat Perang Dunia ke-2 dimana Jepang menguasai Asia Timur Raya tahun 1942 dan mengalami kehancuran fisik sehingga Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup.

Tahun 1950 pemerintah menjadikan Sabang sebagai Basis Pertahanan Maritim Republik Indonesia dan sebagai Pelabuhan Bebas dengan Penetapan Presiden No. 10 Tahun 1963 hingga Kotapraja Sabang pun

dibentuk dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1965. Tahun 1970 status Free Port Sabang ditingkatkan dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1970 menjadi Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas

untuk masa 30 tahun. Namun baru berjalan 15 tahun, Free Port Sabang kembali ditutup yang ke dua kalinya tahun 1985 sementara pemerintah pun membuka Bounded Zone Batam. Sejak itu kehidupan ekonomi

Sabang kembali stagnan dan sepi layaknya sebuah kota terpencil dimanapun di dunia. Ribuan masyarakat yang menggantungkan hidupnya di pelabuhan menjadi miskin, pengangguran dan akhirnya melakukan

migrasi besar-besaran ke wilayah mainland di daratan Aceh. Pertumbuhan ekonomi di Aceh pun merosot tajam secara keseluruhan.

Posisi Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas mulai diperhitungkan kembali tahun 1993, ditandai dengan dibentuknya Kerjasama Ekonomi Regional Growth Triangle Indonesia-

Malaysia-Thailand (IMT-GT), dilanjutkan dengan kegiatan Jambore Iptek BPPT tahun 1997, dan pada tahun 1998 kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang diresmikan oleh Presiden BJ. Habibie bersama KAPET lainnya dengan Keppres No. 171 tanggal 26 September 1998.

Status Sabang kembali ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di masa pemerintahan presiden K.H. Abdurrahman Wahid melalui mandat hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 tahun 2000. Kemudian dalam sidang paripurna DPR RI tanggal 20 Nopember 2000 penetapan statusnya secara hukum diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000. Keputusan ini dilakukan pemerintah pusat agar Kawasan Sabang di ujung barat dapat dijadikan sebagai Pusat Pertumbuhan Baru (New Growth Centre).

Kawasan Sabang itu terdiri atas Kota Sabang (Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako dan Pulau Rondo) dan Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar (Pulau Breuh, Pulau Nasi, dan Pulau

Teunom) dengan luas wilayah 394 km2. Berdasarkan Peraturan Mendagri Nomor 18 Tahun 2005 Tentang Kode Wilayah dan Data Administrasi Pemerintahan, luas wilayah Kota Sabang (Kecamatan Sukakarya dan

Sukajaya) + 153 km2 dan luas wilayah Kabupaten Aceh Besar (Kecamatan Pulo Aceh) adalah + 241 km2, Batas adminstrasi dan gambaran topografi Kawasan Sabang dapat dilihat pada Gambar 1.1. Sebelah utara dengan Teluk Benggala, sebelah selatan dengan Samudera Indonesia, sebelah timur dengan Selat Malaka, dan sebelah barat dengan Samudera Hindia. Sedangkan posisi Sabang dalam lingkup Asean dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Letak Kawasan Sabang yang strategis karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran (International Shipping Line) dan penerbangan internasional menjadikan posisinya begitu sentral sebagai pintu gerbang arus masuk investasi, barang dan jasa dari dalam dan luar negeri. Didukung juga dengan pembangunan Terusan Kra (Canal Kra) di Thailand yang hampir selesai, telah memposisikan Sabang sebagai Buffer Zone bagi kapalkapal container atau kapal-kapal kargo lainnya yang melalui Selat Malaka dan Samudera Hindia. BPKS – Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang – dibentuk

berdasarkan SK Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang) No. 193/194 tanggal 17 Desember 2000. BPKS sebagai suatu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah

pusat di Sabang diharapkan dapat menjadi suatu lembaga pengelola yang dapat mengakselerasi pertumbuhan Kawasan Sabang. Sebagai konsekuensinya, BPKS perlu diberikan pelimpahan kewenangan

atau sebahagian urusan penyelenggaraan pemerintah pusat agar dapat dilaksanakan di wilayah kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang. Akan tetapi dalam pelaksanaannya selama 5 (lima)

tahun dirasakan kurang maksimal.

Dengan adanya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang baru disahkan pada tanggal 11 Juli 2006, maka semakin bertambah kuatlah untuk menjadikan Kawasan Sabang sebagai Kawasan

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Port and Free Trade Zone). Hal ini dicerminkan dari 273 pasal yang ada dalam UUPA tersebut, 4 pasal yang ada yakni: Pasal 167, Pasal 168, Pasal 169 dan Pasal 170; secara jelas dan eksplisit menjelaskan tentang fungsi Kawasan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dalam Pasal 167 secara jelas disebutkan bahwa definisi

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, yakni: suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan RI yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari :

a. tata niaga;

b. pengenaan bea masuk;

c. pajak pertambahan nilai; dan

d. pajak penjualan atas barang mewah.

Dalam Undang-Undang yang sama disebutkan bahwa Pemerintah bersama Pemerintah Aceh mengembangkan Kawasan Perdagangan Sabang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional melalui

kegiatan di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, trasnportasi dan maritim, pos dantelekomunikasi, perbankan, asuransi, pariwisata, pengolahan, pengepakan, dan gudang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan industri dari kawasan sekitar. Juga ditegaskan bahwa pengembangan Kawasan Sabang diarahkan untuk kegiatan perdagangan dan investasi serta kelancaran arus barang dan jasa kecuali jenis barang dan jasa yang secara tegas dilarang oleh undang-undang.

Ke depan sangatlah tepat bila Pelabuhan Bebas Sabang ditetapkan sebagai Pusat Utama Pelayanan Perdagangan Dunia yang dimulai dari Hub kawasan Asia Selatan yang sangat berdekatan dengan Kawasan

Sabang, dan juga berada di persimpangan jalur distribusi barang dari Benua Eropa dan Afrika menuju Benua Amerika dan Australia.

UU No. 11/2006 telah pula menegaskan bahwa untuk memperlancar kegiatan pengembangan Kawasan Sabang, pemerintah melimpahkan kewenangan di bidang perizinan dan kewenangan lain yang diperlukan

kepada Dewan Kawasan Sabang yang akan dilaksanakan oleh BPKS untuk mengeluarkan izin usaha, izin investasi, dan izin lain yang diperlukan para pengusaha yang mendirikan dan menjalankan usaha di

Kawasan Sabang.

Perubahan Teknologi, Transportasi dan Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi kapal terlihat dalam tabel berikut.

Tabel Perkembangan Teknologi Kapal

Generasi Kurun waktu Kapasitas (TEUs) Draft (m)

I 1960 – 1970 300-1000 8

II 1970 – 1980 1500-2500 12

III 1985 – 1988 2500-3500 13

IV 1988 – 2000 3500-5000 14

V 1996 – 2000 6000 15

VI 2000 ke atas 10.000 – 14.000 22

Perkembangan generasi kapal akan terus meningkat, bahkan di tingkat dunia saat ini telah ada 2 (dua) unit kapal dengan kapasitas 10.000 TEUs yang tidak mampu dilayani oleh Selat Malaka.

Perubahan lain adalah semakin canggihnya teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi akan mendorong “just in time” manajemen serta operasi dan layanan yang paperless.

Sumber : Trade & development Report 2005, UNCTAD Keterangan: TEUs : Twelve Feet Equivalent Units

Posisi geografis Kawasan Sabang

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang dibatasi dengan titik-titik koordinat 05°46’28”- 05°54’28” Lintang Utara dan 95°13’02”, 95°22’36” Bujur Timur. Letak ini memberikan keuntungan geografis karena terletak pada persimpangan pelayaran dan perdagangan dunia. Dari bagan di bawah terlihat data volume jalur pelayaran yang melewati perairan Indonesia, yaitu jalur Trans-Pacific dan Europe-Asia.

Kebijakan pemerintah : pusat, provinsi, dan lokal

Dari sisi Pemerintah Pusat, wilayah Kota Sabang, dan sebagian Kabupaten Aceh telah ditetapkan menjadi Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang melalui Perpu Nomor 2 Tahun 2000 yang

ditetapkan menjadi Undang-undang dengan Undang-Undang Nomor 37 tahun 2000. Penetapan ini bertujuan untuk mendorong pembangunan Provinsi NAD dan daerah lain di Indonesia. Sedangkan jangka waktu

berlakunya Undang-undang ini adalah 70 tahun.

Potensial buyers (pengguna jasa) di Kawasan Sabang

Pengguna Kawasan Sabang dalam konteks triangulasi perdagangan di bawah production sharing with transhipment adalah (1) Shipping lines seperti Evergreen, Maersk Sealand, dan APL, dan (2) Industrial untuk

memanfaatkan peluang potensi eksport-import selatan-selatan dan dunia. Dari sisi shipping lines, peran Kawasan Sabang yang potensial adalah (1) suplai logistik bagi awak dan armada dan atau (2) potensi muatannya. Suplai logistik yang dimaksud adalah penyediaan bahan bakar, air, kebutuhan pokok (makanan), sampai kebutuhan sekunder awak kapal seperti hiburan, pakaian, dan sebagainya. Sedangkan potensi muatan adalah barang-barang perdagangan dunia yang diproses di Kawasan Sabang, atau diperlukan oleh Kawasan Sabang sebagai bahan baku, atau sebagai transshipment Trans-Pacific dan Europe-Asia. Shipping lines utama dunia adalah AP. Moeller Group (Denmark), MSC (Swiss), Evergreen (Taiwan), P&O Nedllyod (UK/Netherland), CMA-CGM Group (Prancis), Hanjin (Korea), COSCO (China), NOL/APL

(Singapura), NYK (Japan), MOL (Japan). Sedangkan untuk tingkat Asia adalah Evergreen (Taiwan), APL (Singapore), Hanjin (Korea Selatan), NYK (Jepang), COSCO (China). Separuh dari 10 besar port operating

company berhubungan dengan shipping lines diantaranya Evergreen, COSCO, dan Hanjin. Dari sisi industrial, Kawasan Sabang memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada di persimpangan

jalur perdagangan Eropa-Asia. Dengan pemilihan yang tepat, Kawasan Sabang dapat menjadi kawasan industri bebas yang terkemuka di dunia. Selain itu pengembangan kawasan industri merupakan dukungan

bagi berkembangnya pelabuhan (sebagai hinterland).

Analisis persaingan

Kawasan Sabang terletak di segitiga emas di mana lokasi ini dilewati jalur perdagangan Eropa-Asia. Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand merupakan empat negara utama di Asia Tenggara yang

dilewati sekitar 40% dari arus perdagangan Eropa-Asia (lihat. Tabel 2.6). Menurut Ministry of Comunication of Republic of China, Indonesia khususnya Jakarta termasuk dalam tiga puluh besar pelabuhan di benua Asia (lihat Tabel 2.7).

Container Port Traffic dari Beberapa Negara Asia

Port throughput (juta TEUs) 2003 2002 2001 02/01(%)

World 266,34 243,81 9,20

Top 20 144,87 127,94 110,83 15,44

Cina 20,82 19,14 17,80 7,53

Singapore 18,41 16,94 15,57 8,80

Korea 11,54 15,52 17,50

Malaysia 7,54 6,22 21,20

Thailand 3,80 3,39 12,20

Indonesia 4,54 3,9 0 16,40

Dalam konteks perdagangan dunia, Kawasan Sabang diharapkan dapat berada pada jajaran atas pelabuhan besar Asia. Pengembangan fungsi-fungsi Kawasan Sabang yang diamanatkan dalam UU No. 37/2000 dan UU No. 11/2006 harus dapat bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan di negara tetangga tersebut. Mampukah Sabang mengatasi persaingan tersebut?. Untuk menjawab pertanyaan di atas dilakukan analisis pada pelabuhan-pelabuhan pesaing seperti Singapura dan Malaysia.

Posisi Sabang dalam Konteks Pengembangan Wilayah

Struktur Sabang dalam Pengembangan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Momentum pencanangan Kawasan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang melalui Undang-undang No. 37 Tahun 2000, menjadikan kawasan ini sebagai titik pertumbuhan kegiatan perekonomian bagi masyarakat Kawasan Sabang dalam skala lokal menuju pasar global ASEAN/AFTA dan APEC tahun 2020. Artinya merupakan langkah yang tepat dalam memajukan dan meningkatkan pembangunan serta memberikan peluang bagi dunia usaha untuk berperan secara lebih luas sehingga titik sentral pertumbuhan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dapat bergerak cepat. Penentuan Kawasan Sabang sebagai pusat pertumbuhan juga dipertimbangkan dari segi kurang representatifnya kawasan lain sebagai pusat pertumbuhan, seperti Medan yang telah berkembang demikian pesatnya sehingga cenderung melahirkan kegiatan yang tidak efisien dan tidak mampu mengembangkan wilayah-wilayah di bagian barat pulau Sumatera. Sehingga Sabang merupakan pointer di wilayah barat Sumatera yang diharapkan akan mampu memicu pertumbuhan untuk wilayah-wilayah lainnya.

Struktur Sabang dalam Pengembangan Nasional

Letak Kawasan Sabang yang sangat strategis dan unik menjadikan posisinya begitu sentral karena dapat dijadikan sebagai pintu gerbang bagi arus masuk investasi, barang dan jasa dari luar negeri yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sehingga Sabang akan mampu mengubah pola pertumbuhan ekonomi nasional yang semula terkonsentrasi di pusat wilayah, pada masa yang akan datang akan bergerak ke arah wilayah pinggiran khususnya pada daerah yang berbatasan dengan negara asing yang secara geografis memiliki aksesibilitas yang tinggi terhadap negara tersebut.

Struktur Sabang dalam Pengembangan ASEAN

Pemerintah RI telah menjalin 3 kerjasama dengan negara-negara ASEAN dan 1 dengan Australia yang disebut dengan Kerjasama Ekonomi Sub Regional (KESR) yakni: KESR Indonesia Malaysia Thailand

Growth Triangle (IMT-GT), KESR Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS-GT), KESR Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philipina East Asean Growth Triangle Area (BIMP-EAGA) dan KESR Australia Indonesia Development Area (AIDA). Kawasan Sabang masuk dalam kawasan IMT-GT. Adanya penetapan Sabang sebagai kawasan pertumbuhan yang memenuhi berbagai persyaratan baik dari segi letak geografis yakni posisinya berada pada jalur lintas pelayaran dan penerbangan internasional, maupun dari segi prasarana yang akan terus ditingkatkan serta potensi yang ada; maka hal ini merupakan antisipasi pusat-pusat pertumbuhan yang dikembangkan oleh negara ASEAN lainnya seperti Langkawi (Malaysia) dan Phuket (Thailand) dalam rangka IMT-GT. Melalui perjanjian Multilateral AFTA, maka kawasan segitiga pengembangan ini diharapkan dapat terbentuk pola jaringan kerjasama ekonomi yang efisien dan efektif dengan memanfaatkan masing-masing comparative advantagesnya sehingga dapat menjadi salah satu pusat perdagangan global.

Strategi Pengembangan

Strategi pengembangan pelayanan perdagangan bebas, yakni:

· Dikembangkan kegiatan import, eksport, alih kapal. Kawasan Sabang diharapkan menjadi suatu kawasan Free Trade Zone (FTZ) sesuai dengan UU No. 11/2006.

· Melakukan aliansi strategis dengan operator pelabuhan dunia dan estate management dunia

· Untuk memberikan struktur perekonomian bagi pengembangan Kawasan Sabang, maka perlu ditetapkan adanya sektor prioritas dan sektor andalan. Sektor prioritas memberikan kontribusi langsung untuk menarik investasi berdasarkan peluang dan potensi investasi yang ada sedangkan sektor andalan lebih dititikberatkan kepada perwujudan lembaga pengusahaan dan penyediaan infrastruktur kawasan yang berskala internasional.

· Dikembangkan 4 sektor prioritas yakni: jasa kepelabuhanan, industri/perdagangan, pariwisata dan perikanan

· Dikembangkan 2 sektor andalan yakni: kelembagaan dan infrastruktur

Pengembangan Sektor Prioritas dan Sektor Andalan

Strategi pengembangan sektor prioritas, yakni:

a. Sektor Jasa Kepelabuhanan

· Mengembangkan jasa kepelabuhanan di Pelabuhan Sabang menjadi jasa terutama di bidang pelabuhan kontainer.

· Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 69 Tahun 2001 pasal 38, jasa kepelabuhanan adalah:

Penyediaan kolam pelabuhan dan perairan;

Pemanduan kapal-kapal (pilotage) dan jasa penundaan kapal laut;

Dermaga untuk bertambat, bongkar muat barang dan hewan, fasilitas naik turun penumpang dan kendaraan;

Penyediaan infrastruktur: jalan dan jembatan, tempat tunggu kendaraan, saluran pembuangan air, intalasi listrik, instalasi air minum, depo bahan bakar dan pemadam kebakaran;

Penyediaan terminal peti kemas, curah cair, curah kering dan ro-ro;

Gudang dan tempat penimbunan barang, angkutan di perairan pelabuhan, alat bongkar muat serta peralatan pelabuhan;

Penyediaan tanah untuk berbagai bangunan dan lapangan sehubungan dengan kepentingan kelancaran angkutan laut dan industri;

Penyediaan jasa lainnya yang dapat menunjang pelayanan jasa kepelabuhanan.

· Melakukan kemitraan dengan perusahaan Pengelola Pelabuhan Dunia

b. Sektor Industri dan Perdagangan

· Mengembangkan fasilitas Transhipment (alih kapal)

· Mengembangkan kawasan industri dan perdagangan

c. Sektor Pariwisata

Mengembangkan pariwisata bahari, dengan langkah-langkah:

· Menata kembali (menyederhanakan) sistem perizinan seperti ”Cruising Aprroval for Indonesian Teritory” (CAIT), usaha pariwisata, dan kapal wisata berbasis Indonesia.

· Mengembangkan ”pelayanan prima” untuk ” Custom, Immigration, Port Clearence dan Quarantine,” (CIPQ), “ hospitality”, dan “security”.

· Mengembangkan usaha hulu hilir dan terkait dari kegiatan “cruising” dan “yachting” antara lain: industri galangan, pelaratan, produk pariwisata, keuangan, operator, pemasaran, dan SDM;

· Memberdayakan masyarakat

· Melakukan konservasi lingkungan

· Membangun sarana dan prasarana

· Membangun keamanan yang kondusif

d. Sektor Perikanan

Sektor perikanan merupakan sektor komplementer dari sektor industri dan perdagangan. Adapun yang

akan dikembangakan dalam sektor ini antara lain:

· Mengembangkan industri perikanan modern berbasis tangkap di wilayah barat pulau Sumatera mengingat Sabang berada di lintasan sumberdaya ikan-ikan pelagis seperti: tuna, cakalang, tenggiri dan marlin.

· Mengembangkan perikanan budidaya khususnya di jaring apung.

Potensi Investasi

Dalam rangka melaksanakan pembangunan Kawasan Sabang, maka perlu dilakukan perhitungan kebutuhan biaya pembangunannya. Pada sub bab ini dilakukan perhitungan secara umum bagi potensi investasi sektor prioritas dan sektor andalan Kawasan Sabang tahun 2007 – 2021. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 7.1. Potensi Investasi Sektor Prioritas dan Andalan Kawasan Sabang 2007 – 2021. Adapun pola pengembangan investasi di Kawasan Sabang dilakukan sbb:

Pelabuhan internasional hub Sabang sebagai prioritas dan sektor utama dan kunci (primary and key sector) bagi pengembangan investasi di Kawasan Sabang.

Investor di Pelabuhan Sabang merupakan Investor Jangkar (anchor investor), untuk menarik investor – investor lain untuk berinvestasi di Kawasan Sabang.

Untuk menarik ‘anchor investor’ ini, BPKS telah melakukan investasi yang bersumber dari APBN bagi pengadaan infrastruktur ekonomi Pelabuhan Sabang.

Adanya investasi infrastruktur dan aset BPKS lainnya harus dinilai oleh lembaga penilai Independen untuk diperhitungkan sebagai ekuitas pada perusahaan kerjasama (JVC – Joint Venture Company) yang dibentuk dengan pihak ‘anchor investor’ Pelabuhan Sabang.

JVC dibentuk dengan komposisi kepemilikan saham 50 % untuk BPKS dan 50 % untuk anchor investor. JVC bertugas untuk membangun Pelabuhan Sabang selambat – lambatnya dalam 5 (lima) tahun.

Pengembangan pelabuhan internasional hub Sabang ini dilaksanakan selama tahun pertama dan kedua.

Sedangkan untuk tahun ketiga sampai dengan kelima akan dilakukan evaluasi ekuiti untuk dikembangkan pada program tahun selanjutnya. Dengan pola investasi ini maka arahan investasi yang prioritaskan dan difokuskan bagi pembangunan pelabuhan internasional hub sebagai implementasi UU No. 11/2006, diharapkan dapat memberikan struktur modal dan pembiayaan secara terarah, terukur dan berkesinambungan.

Juni 4, 2009 - Posted by | wisata | , , , ,

1 Komentar »

  1. kurang bagus formatnya, isi gak nyambung sama temanya

    Komentar oleh weka | Juni 12, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: